Headlines News :

Suara TV9



Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Pemilik Sapi Kerapan Gelar Tradisi Arak Sapi

Lumajang-Jurnal 9, Jelang Hari Raya Idhul Adha,  warga Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun Lumajang, menggelar tradisi unik yakni tradisi arak sapi kerapan, warga menghiasi sapi-sapinya dengan asesoris khas Madura.

Dengan diiringi musik gamelan, mereka mengarak sapi kerapan keliling desa setempat dan ke makam leluhur. Selain itu bagi pemiliknya yang memakai baju khas Madura harus ikut berjoget mengikuti irama alulan musik gamelan.

Tradisi arakan sapi ini dilakukan  setiap jelang Idul Adha . Dengan cara mengarak sapi keliling kampung dan ke makam leluhur, warga percaya akan membawa berkah tersendiri bagi pemiliknya, dan sapi kerapanya bisa berlari kencang saat di adu di arena lomba kerapan sapi.
 
“Tradisi ini telah lama dilakukan oleh para penggemar kerapan sapi di Lumajang, khususnya keturunan Madura dan hingga saat ini masih tetap dilestarikan,” ujar Hasan (warga).


Stakeholder Bentuk Forum Jaga Kelestarian Situs Trowulan

Mojokerto-Jurnal 9, Ditetapkannya Trowulan sebagai kawasan cagar budaya Nasional pada akhir tahun 2013. Membuat  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, membentuk forum Komunikasi Majapahit, yang mencakup berbagai unsur lapisan masyarakat.

Forum ini bertujuan membantu melestarikan dan mengelolah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Pembentukan forum diadakan di pendopo BPCB di Jalan Raya Trowulan Mojokerto, dengan dihadiri perwakilan Pemerintah dan kelompok masyarakat, serta pelestari budaya.

“Dibentuknya forum tersebut untuk membantu BPCB dalam melestarikan cagar budaya. Forum ini nantinya sebagai pusat informasi dan pengelolah pengembangan cagar budaya,” ujar koordinator forum komunikasi budaya majapahit (Anam Manis).

Melihat kawasan cagar budaya trowulan yang berada di pemukiman warga, membuat BPCB kesulitan dalam pengelolannya. Dengan dibentuknya forum ini diharapkan dapat mempermudah dalam mensosialisakan kemasyarakat.


Trowulan Di Tetapkan Sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional

Mojokerto-Jurnal 9, Sosialisasi penetapan Trowulan sebagai kawasan cagar budaya Nasional dilaksanakan di aula Museum Mojopahit,Trowulan, Mojokerto. Penetapan dilakasanakan secara simbolis oleh DirjenKebudayaan, Kacung Marijan, dengan disaksikan kepala B-P-C-BJawa Timur,Arkeolog Prof Mundarjitodan Dinas Pemerintah Provinsi Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang, dan kelompok masyarakat pencinta budaya.

Trowulan secara resmi ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya Nasional, sesuai surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 260/ M/ 2013 tentang penetapan satuanruang geografis trowulan sebagai kawasan cagar budaya peringkat Nasional tertanggal 30 desember 2013.

Menurut Sekjend kebudayaan Nasional, Kacung Marijan, dengan ditetapkanya trowulan sebagai kawasan cagar budaya Nasional, diharapkan dapat membawa perubahan positif.  Tidak hanya berdampak pada keilmuan, tetapi akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Bahkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaanserta B-P-C-B sudah membuat konsep pengembangan peninggalan kerajaan zamanmajapahit di trowulan.

Kepala B-P-C-B, Aris Sovianimenyatakan, badan pelestarian cagar budayaJawa Timur akan menata pengembangan kawasan cagar budaya, sesuai dengan peninggalan kerajaan majapahit di zaman dahulu. 

Ajak Stakeholder, Untuk Lestarikan Peninggalan Majapahit

Mojokerto-Jurnal 9, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, menggelar seminar budaya untuk melestarikan dan mengelola peninggalan zaman kerajaan majapahit di Trowulan Mojokerto. Seminar diadakan di musium mojopahit dan dihadiri perwakilan pemerintah dan kelompok masyarakat pelestari budaya.

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (L-I-P-I), Endang Turmudi, perlu dibentuk forum komunikasi yang melibatkan semua stakeholder, yakni pemerintah daerah, pemerintah pusat, semua kalangan masyarakat  dan pelestari budaya, pengusaha, perlu duduk bersama dalam satu forum untuk merumuskan langkah pelestarian cagar budaya.

Sebab dikhawatirkan munculnya konflik berbagai kepentingan, yang selama ini terjadi di trowulan dan menjadi  perhatian serta obyek penelitian L-I-P-I. Seperti, konflik pendirian pabrik baja disekitar kawasan cagar budaya yang mengakibatkan timbulnya konflik antar kelompok pro industri dan kelompok yang menolak industrialisasi,walaupun konflik itu kini sudah diselesaikan.

Kawasan cagar budaya trowulan yang berada di pemukiman warga juga jadi kesulitan tersendiri dalam pelestarian dan pengelolaan cagar budaya. Tidak memungkinkan jika lahan seluas itu dibebaskan dan malah hanya memunculkan masalah baru . LIPI memberikan masukan bahwa solusi dari permasalahan tersebut adalah perlunya pendekatan ke masyarakat dalam melestarian cagar budaya.

Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Edi Iriyanto mengatakan, pemerintah pusat provinsi jawa timur sudah bergerak, namun sayangnya masih kurang fokus . Perlu ada sinergitas antara pemerintah, warga dan stake holder terkait untuk sepakat  dalam membangun dan melestarikan peninggalan majapahit.


Seniman Dan Budayawan Penerima Anugerah Hadiah Asrul Sani


Jakarta, NU Online
Untuk ketiga kalinya, NU Online memberikan penghargaan kepada para putra terbaik bangsa berupa Hadiah Asrul Sani (HAS). Pernghargaan diberikan bertepatan dengan ulang tahun ke-11 NU Online di auditorium lantai 8 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Jumat (28/3) malam.
Untuk tahun 2014, ada lima orang yang menerima anugerah kebudayaan ini. Mereka adalah Usep Romli HM (Kategori Kesetiaan Berkarya), Agus Sunyoto (Kategori Penulis Kreatif), Tatik Maliyati (Kategori Sineas Berbakti), KH Chizni Umar Burhan (Kategori Pelindung Karya), dan H Muammar ZA (Kategori Tokoh Legendaris). Sebelum menerima penghargaan, kelima tokoh ini diminta memberikan sambutan singkat.
Usep Romli (64) mengatakan, dirinya sejak belia telah mengenal NU. “Saya menjadi NU sejak anak-anak karena kakek saya orang NU. Saya mulai menulis sejak 1964, tetapi sering ditolak. Nah, yang menerima justru majalah PNI dan PKI,” ujarnya.
Agus Sunyoto (54) mengajak anak muda NU menjaga serta meningkatkan tradisi literasi. Karena sejarah akan tercipta melalui kegiatan mulia ini. “Anak muda NU musti tingkatkan kegiatan tulis-menulis,” serunya.
Sementara itu, Tatiek Maliyati (79) dengan wajah berbinar mencoba mengumpulkan ingatannya tentang sosok Asrul Sani yang dijadikan nama penghargaan yang diberikan NU Online.
“Saya tidak banyak mengenal NU, akan tetapi saya mengenal baik Asrul Sani. Karena beliau adalah guru saya di Akademi Teater Nasional Indonesia. Bagi saya, Pak Asrul orang yang luar biasa,” ujarnya.
Sebagai seorang mahasiswi, lanjut Tatik, dirinya merasakan betul bahwa Asrul Sani merupakan satu-satunya dosen di kampusnya yang memberikan pencerahan terhadap dunia perfilman sehingga dia mampu berbuat banyak bagi negeri ini. Meski bukan anggota NU, Tatik mengetahui Asrul Sani salah seorang pengurus Lesbumi. “Saya bukan anggota NU, tapi mulai sekarang saya sangat simpati terhadap NU,” tegasnya yang langsung disambut aplaus panjang hadirin.
KH Chizni Umar Burhan dalam sambutannya mempersilakan para peneliti muda NU untuk datang ke rumahnya di Gresik. Ia menyimpan banyak sekali dokumen dan arsip NU di masa-masa awal yang merupakan warisan dari ayahnya, KH Umar Burhan, sekretaris pribadi Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.
Sementara itu H Muammar ZA yang memperoleh penghargaan untuk kategori tokoh legendaris  berhalangan hadir. Penerima hadiah diwakili langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali.
Acara dilanjutkan pidato kebudayaan oleh Ahmad Tohari, kemudian disusul pembacaan cerpen karyanya oleh Abdullah Wong sebelum akhirnya ditutup doa oleh budayawan D Zawawi Imron.
“Ya Allah, hari ini di PBNU ada peristiwa budaya yang menandai bahwa kami warga NU cinta budaya. Inti kebudayaan adalah hati yang bersih. Oleh karenanya, berikanlah kami hati yang bersih agar dapat lebih mencinta Indonesia,” tutur kiai flamboyan asal Madura ini dalam doanya. (Ali Musthofa Asrori/Anam)

Foto: Salah satu penerima HAS, Usep Romli HM (kanan), menerima piagam penghargaan dari Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi

Tradisi Mudik


Mudik atau pulang kampung itu adalah sebuah tradisi. Sekali lagi tradisi atau kebiasaan saja. Persoalannya kemudian itu dinilai sebagai amal ibadah atau foya-foya saja, itu soal laen. Dan saya tidak akan membahas dan mempersoalkan itu. Sekali lagi, bukan wilayah saya untuk menilainya apalagi menghukuminya, sebab saya bukan ahli hukum atau juru nilai.
Pulang kampung akan menjadi sebuah aktivitas biasa saja atau individual, jika hanya dilakukan oleh para individu, tanpa melibatkan sistem, nilai, norma dan adat sosial. Dalam pengertian ini, anda atau siapa saja bisa mudik kapan saja, tanpa harus menunggu momen sosial. Mudik hanya terjadi pada mereka yang bermigrasi, perantau. Bagaimana bisa dikatakan mudik, jika ia menetap atau berdiam di kampung halamannya.
Dalam kerangka ini, mudik dapat terjadi di berbagai kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Amerika saja bisa terjadi kok aktivitas mudik, mungkin saat perayaan thank giving atau natal. Di China, Bangladesh, Malaysia, Nigeria dan sebagainya. Memang biasanya, mudik itu dikaitkan dengan momentum hari raya sebuah masyarakat, apakah hari raya keagamaan ataupun budaya. Mudah dipahami dengan demikian, karena hari raya akan dihormati oleh negara. Kemudian diberikan hak libur yang “cukup” untuk merayakannya. Kesempatan ini lalu digunakan untuk menengok kembali pada sanak keluarga dan orang tua di kampung asal.
Dalam konteks sosial demikian, mudik telah menjadi bagian dari aktivitas negara, masyarakat, keagamaan dan kebudayaan. Kita jadi lebih bisa memahami bahwa mudik benar-benar sebuah tradisi, karena adanya libur yang diberikan bagi para pekerja imigran, kebutuhan menengok keluarga, menghabiskan waktu libur dan tentu ada nilai-nilai sosial yang hendak tetap dijaga.
Jika demikian, maka salah satu cara menghilangkan tradisi mudik adalah melalui tradisi juga. Ciptakan tradisi baru yang lebih menjanjikan ketimbang mudik dan itu harus bisa diterima secara massive, misalnya berikan bonus besar-besaran dan adanya aturan keras bagi para pekerja yang mudik. Penjarakan bila perlu mereka yang mudik. Tapi siapkah dengan segala resiko sosial politik akibat itu?

Karya Sunan Bonang : Het Boek Van Bonang


Banyak pihak meragukan keberadaan walisongo. Namun di sisi lain, mereka juga mengakui bahwa satu-satunya karya tulis yang bisa dianggap sebagai warisan karya para wali tersebut adalah “Het Boek van Bonang”, karya Sunan Bonang, salah satu anggota walisongo. Jadi, dengan mendasarkan karya tulis tersebut, bagaimanapun walisongo, bukan fiktif, paling tidak itulah karya tulis sebagai bukti sejarah keberadaan Sunan Bonang.
Masih dalam buku tersebut, ternyata Sunan Bonang memiliki pandangan keagamaan yang sejalan dengan Ahlussunnah wal jamaah, dimana berpegang pada imam madzhab. Berikut petikan narasi dari buku/kitab tersebut :
“Mangka anabda Shaich al Bari : e-Mitraningsun ! pamanggihingsun ta nora mongkono kaya Abdul Wahid iku. Karana satuhune pangucape Abdul Wahid iku kupur ing patang madh’hab”.(Pupuh III)
(“Maka bersabda Shaich al Bari : Hai, kawan! Pendapatku tidak seperti Abdul Wahid itu. Karena sesungguhnya ucapan Abdul Wahid itu kufur menurut empat madzhab”
 Dalam bait lain :
“Mangka angandika imam Ghazali :  ya Shaich Supi! kupur tuwan ing patang madh’hab dening tuwan akecap anakisaken sifating pangeran karana ujar tuwan puniku awit angorakaken angapesaken sifating pangeran iku karan tuwan kupur. ” (Pupuh XIII)
(“Maka berkata Imam Ghazali : Hai Syaich Supi ! kufur anda pada empat madzhab sebab ucapan tuan menakiskan (mensifati dengan kekurangan) sifat Tuhan, karena tuan menakiskan sifat Tuan maka itu kufur” )
Penyebutan empat madzhab mengindikasikan bahwa Sunan Bonang berpegang teguh dan berpedoman dengan para Imam Madzhab. Demikian pula dalam Tasawuf/Akidah menyandarkan pada pendapat Imam Ghazali dan Kitab Ihya Ulumuddin, berikut petikannya :
“Nyan punika caritanira Shaich al Bari : tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh ; kang pinituturaken wirasaning Usul Suluk – vvedaling carita saking (2) Kitab Ihya ‘ulum aldin lan sakingTamhid – antukira Shaich al Bari ametet ®) i(ng) ti(ng)kahing sisimpenaning nabi wali mukmin kabeh”. (Pembukaan).
(“Demikianlah cerita Shaich al Bari : tatkala engkau berkata kepada kawanmu semua ; yang dituturkan adalah isi (kitab) Ushul Suluk yang berasal dari Kitab Ihya’ Ulumuddin dan dari Tahmid-yang diperoleh Shaich Al Bari menjaga dan tersimpan oleh para nabi dan wali mukmin semua)”
Beliau, Sunan Bonang juga mengenal pembagian sifat-sifat Allah, seperti sifat salbiah, berikut petikannya :
 “e-Mitraningsun ! mboya kang ora iku – kaia wirasaning sastra  kadia sipating pangeransifatulsalbi, tegese : sifating pangeran mahasuci lan kadi sawiji-wiji”. (Pupuh III).
(“Wahai kawan! Janganlah seperti itu – bahwa isi kitab seperti sifat salbi(yah) Allah, maksudnya : sifat Tuhan yang Mahasuci, dan semua sifatnya (setiap sifatnya) mahasuci”)
 Bahkan, persoalan perdebatan akidah seputar muktazilah juga disinggung dalam bait berikut :
“Mangkana sang siptaning wong ‘arif ika ora kaja tuwan mo(ng)kono, anakisaken sifating pangeran : iku karan tuwan kagepoking ujar sasar, kagepok ing wong Mu’tazilah”.(Pupuh XIII).
(“Maka perkataan orang arif itu tidak seperti perkataan tuan, yang menakiskan sifat Tuhan : itu berarti tuan jatuh pada perkataan sesat, sama dengan orang Muktazilah”)
Het Boek van Bonang sudah menjadi karya sastra yang diteliti oleh para sarjana barat dan diyakini keasliannya sebagai karya Sunan Bonang. Dengan demikian, maka jelas sudah, bahwa Sunan Bonang dan tentu para walisongo semuanya adalah para penegak madzhab, penegak panji ahlussunnah wal jamaah

Wallahu ‘alam
 

LENSA NAHDLIYIN

BERITA VIDEO

Support : Jurnal 9 | tv9 | news
Copyright © 2011. TV9 Berita - All Rights Reserved
Template Created by tonny Published by tv9
Proudly powered by Redaksi