Headlines News :

Suara TV9



Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme Warga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme Warga. Tampilkan semua postingan

Petugas Kepolisian Survey Lokasi Parkir Muktamar




Jombang (TV9berita.com) – Petugas kepolisian dari Polda Jawa Timur dan Polres Jombang, mendatangi sejumlah lahan parkir yang ada di setiap Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah setempat. Polisi melakukan pengecekan dan melihat langsung lokasi lahan yang akan digunakan sebagai tempat parkir kendaraan peserta muktamar tersebut. Dan hingga kini polisi masih mengumpulkan informasi, terkait jumlah kendaraan yang akan masuk di wilayah Jombang.



Selengkapnya, berikut hasil liputan tersebut:



Kucing Dilatih Untuk Memijat???

Pasuruan-Jurnal 9, Pussy, itulah nama kucing unik milik Edy Agus Purwanto, Warga Dusun Pandean, Desa Nguling. Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, berbeda dengan kucing pada umumnya.

Kucing berusia tujuh tahun tersebut bisa memijit orang dengan menggunakan ke dua kaki depannya. Namun si ‘Pussy’ baru mau meijit setelah  diberi makan tongkol rebus yang dicampur nasi terlebih dahulu. Berbeda dengan pijatan manusia ‘Pussy’ memijat sambil mengeluarkan kukunya.

Salah satu warga (Sunart)I yang sudah merasakan pijatan ‘Pussy’ mengaku tusukan kuku kucing keturunan Persia tersebut terasa sedkit sakit, namun dapat menghilangkan rasa nyeri dan capek.

Kelebihan yang dimiliki oleh ‘Pussy’ berawal dari sang pemilik yang melatihnya sejak kecil, cara merawatnya pun butuh ketelatenan mulai dari menjaga pola makan dan mandi teratur.
  


Manis dan Legitnya si Primadona dari Probolinggo



Probolinggo-Jurnal 9, Datangnya musim panen raya sawo di Probolinggo membawa berkah bagi warga pemilik pohon sawo. Selain memiliki ukuran yang lebih besar, buah sawo khas Probolinggo dikenal manis dan legit sehingga menjadi primadona bagi para konsumennya. Apalagi tingginya minat warga akan buah sawo di Probolinggo membuat pedagang bisa meraup untung besar.

Salah satu warga kecamatan Tongas Probolinggo Nur Rahmad menuturkan, sebelum dijual buah sawo harus melalui proses pembersihan agar menghasilkan rasa yang manis dan legit. “Caranya buah sawo direndam ke dalam air bersih untuk menghilangkan kotoran dan getah pada buahnya. Setelah bersih dan mulai matang buah sawo siap dijajakan di sepanjang jalan raya jalur pantura Probolinggo-Pasuruan,” ujarnya.

Tingginya minat pembeli menjadi berkah tersendiri bagi warga pemilik pohon sawo. Terlebih pembeli bukan hanya berasal dari Probolinggo, pembeli juga datang dari beberapa kota sekitar seperti  Pasuruan, Malang dan Surabaya. Biasanya buah sawo dibeli warga untuk dijadikan oleh-oleh atau dinikmati di lokasi sambil beristirahat melepas lelah.







Belajar pada Air

Mari bernostalgia dengan air. Ciptaan Allah SWT yang tidak pernah terhitung jasa dan manfaatnya untuk seluruh umat manusia. Dahulu ketika kecil, sebagian dari kita mungkin pernah mengalami jika ingin mendapatkan air minum, kita harus memasaknya terlebih dahulu.
Air mentah dari sumur dimasak, jika sudah suam kuku, air lalu dimasukkan ke dalam teko atau kendi. Jika air baru saja dimasak, dan kita sangat haus, sering kali orangtua kita mendinginkannya dengan cara dituangkan, dibolak-balik dari gelas ke gelas. Begitu sabar orang tua kita, begitu pun kita.
Kini, air sepertinya begitu mudah didapatkan, kita dapat menemukannya di depot-depot air isi ulang, di super market. Air-air kemasan galonan menggantikan air sumur yang dimasak. Praktis memang, tapi sepertinya ada yang hilang, tak ada lagi proses pendinginan dari gelas ke gelas, tak ada lagi menunggu, tidak ada lagi pelajaran kesabaran.
Ada cerita unik soal air, dahulu, sewaktu masih nyantri di Buntet pesantren Cirebon, setiap malam Jumat kami selalu mengadakan acara yang disebut “Manakib-an”,  yaitu kenduri dan pembacaan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW, biasanya kami lakukan kebiasaan ini di masjid atau cukup di aula asrama. Kami membentuk lingkaran, di tengah lingkaran kami meletakkan beberapa wadah yang berisi air minum. Usai Manakib-an, air-air itu lalu diserbu demi mengalap berkah.
Konon, air yang diperdengarkan dengan bacaan-bacaan doa dan shalawat akan membuat air tersebut berkah, jika diminum akan membuat otak cerdas, bermanfaat, dan sehat. Kepercayaan yang sudah turun-temurun itu telah sejak lama diajarkan oleh para guru saya di pesantren. Lalu saya bepikir dari mana ceritanya? Dari mana logikanya? Walaupun demikian, saya tetap percaya dengan tradisi dan kepercayaan yang turun temurun itu; kepercayaan kuat akan menghancurkan logika.
Benar saja, tahun 2003 Dr. Masaru Emoto seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang melalui penelitiannya menemukan bahwa partikel molekul air ternyata dapat berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya; sejak  saat itu kepercayaan saya perihal air Manakib-an menjadi berbanding lurus dengan fakta saintifik yang dibuktikan oleh Dr. Emoto. Logika ini pula yang kemudian membawa saya percaya bahwa air Zam-zam di tanah suci Mekkah adalah air yang penuh dengan keberkahan karena sejak pancuran pertama dari kaki Nabi Ismail AS sampai detik ini, air itu tak pernah lepas oleh lafaz-lafaz Tuhan.
Air itu seperti mata kuliah dengan SKS seumur hidup. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari air. Air selalu membuat saya berpikir bagaimana mereka bisa begitu jernih, bisa begitu keruh, bisa begitu sangat lemah, dan bisa begitu sangat kuat, begitu sangat diabaikan dan begitu sangat diperlukan.
Air selalu saja menjadi pelajaran yang sangat berharga, bukan menebak-nebak, tapi jangan-jangan kenapa hujan tetap saja turun saat kita menggelar hajatan itu dikarenakan Tuhan tahu di saat yang bersamaan ada petani yang sedang mengharapkan hujan datang untuk sawahnya yang kering. Tuhan juga tahu kita lebih memiliki kesabaran yang tinggi ketimbang sang petani. Tuhan juga tahu sang petani lebih memiliki rasa syukur yang tulus ketimbang kita; bisa saja.
Jadi, rasanya kurang tepat jika air selalu dijadikan biang keladi yang kerap diperbincangkan ketika wabah kekeringan melanda atau banjir bandang datang tiba-tiba. Kenapa kita tidak menengok ke diri kita? Jangan-jangan kesalahan ada di pihak manusia. Tak layak pula jika air selalu menjadi ‘kambing hitam’ atas nestapa dan malapetaka ketika air tumpah ruah di Tanah Rencong, ketika air menggenang di daratan ibu kota. Sekali lagi, mari tengok ke diri kita sendiri.
Entah kenapa air terkadang disalahkan. Apalagi di musim hujan seperti saat ini, titik-titik air yang berjatuhan dari udara itu selalu menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Hujan tak mengerti perasaanlah, hujan labil lah, hujan tak tahu waktu lah, hujan reseh lah, hujan nanggunglah, abis nyuci motor kok kenapa hujan, jemur pakaian enggak kering-kering gara-gara hujan, dan semua kalimat yang memosisikan hujan di titik yang tidak mengenakkan.
Padahal, kalau kita sedikit saja mau bermenung diri, di balik itu semua, sesungguhnya hujan sedang mengajarkan kita tentang sebuah arti. Hujan mengajarkan ‘cara’ bersyukur bagi manusia yang mengharapkannya, dan mengajarkan ‘cara’ bersabar bagi yang tak mengharapkannya. Siapkan saja jas hujan Anda jika hujan datang, sebab Tuhan tahu Anda ini akan bisa belajar lebih banyak tentang arti bersabar jika hujan datang.

Hijrah Ahmad, editor Buku, Alumni Pondok Buntet Pesantren Cirebon, (@hijrahahmad)
 

LENSA NAHDLIYIN

BERITA VIDEO

Support : Jurnal 9 | tv9 | news
Copyright © 2011. TV9 Berita - All Rights Reserved
Template Created by tonny Published by tv9
Proudly powered by Redaksi