Headlines News :

Suara TV9



Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

HARI JADI KABUPATEN PASURUAN KE 1086



Pasuruan (TV9berita.com) – Dalam rangka hari jadi kabupaten pasuruan yang keseribu delapan puluh enam tahun, bupati pasuruan menggelar diskusi publik dengan tema menjadikan desa sebagai fokus pembangunan  di pendopo kabupaten pasuruan. Sesuai tema tersebut,  bupati pasuruan membentuk program desa maslahat  yang difokuskan pada aspek pendidikan, kesehatan  ekonomi, infrastruktur, ketertiban dan keamanan. 

Berikut hasil selengkapnya:


Sosok KH Ishaq Latief

Kiai  sepuh  Pondok  Pesantren  Tebuireng, Jombang, KH Ishaq Latief,  yang  wafat Jumat siang  menyimpan kesan mendalam bagi santri nya.  Sosok kiai yang sederhana tersebut, di mata santri dikenal dengan pribadi yang humoris  saat mengajar sehingga  mudah dipahami oleh para santri. Selain itu,  beliau selalu terlihat membawa kitab kuning untuk di mutholaah di manapun beliau berada.

Berikut liputannya:


KH Ishaq Latif Wafat

Kiyai sepuh sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang/ KH Ishaq Latief, Jumat siang, wafat. Sebelumnya beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah  (RSUD) Jombang. Jenazah  dimakamkan  di pemakaman komplek pondok Tebuireng. Selama hidupnya, beliau dedikasikan untuk pondok dengan mengajar kitab kuning tasawuf dan fiqih kepada santri dan masyarakat.

Berikut liputannya:




Mengenal Lebih Dekat Habib Syech


Bagaimana Habib Syech mulanya berdakwah lewat Shalawat, apakah mulus? atau justru banyak tantangan dan rintangannya?
Simak dialog berikut:









Warga Belanda Dokumentasikan Treatikal Perang 10 November

Surabaya-Jurnal 9, Memperingati Hari Pahlawan pada 10 November, komunitas seniman dan pemuda Surabaya menggelar treatikal perang yang dilakukan pejuang kemerdekaan pada tahun 1945 silam. Dalam treatikal yang diperankan tersebut arek Surabaya tidak terima dengan tentara Inggris yang masih menjajah Indonesia terutama Surabaya pascA kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945,  pertempuran sengit pun dilakukan di sekitar Hotel Yamato yang kini menjadi Hotel Majapahit.

Aksi teatrikal tersebut mendapat perhatian dari seorang warga negara Belanda (Marjolein), perempuan berusia 27 tahun ini mendokumentasikan prosesi treatikal pertempuran 10 November yang dilakukan Arek Surabaya. warga Belanda ini datang ke Indonesia untuk mencari cerita sosok kakeknya yang merupakan Marinir Belanda yang meninggal dalam pertempuran. Dan setelah banyak mendengarkan cerita sejarah, Marjolein baru mendengar adanya pertempuran 10 November di Surabaya.

Tak hanya itu saja, para anak kecil pun sangat antusias untuk mengetahui sejarah pertempuran yang merenggut banyak nyawa untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, mereka berharap agar generasi muda tetap semangat dengan kemerdekaan.
Drama tersebut  langsung dipimpin oleh Walikota Surabaya (Tri Rismaharini), Kapolrestabes Surabaya (Kombes Pol Setija) dan pimpinan DPRD Surabaya. Dengan drama kolosal yang diperankan diharapkan generasi muda mampu mengenang jasa para pahlawan dan meneruskan perjuangannya dengan turut serta membangun Indonesia.


Mantan Pejuang Wanita Hidup Sebatang Kara

Sidoarjo-Jurnal 9, Harnaniek, mantan pejuang wanita (85 tahun) hidupnya cukup mengenaskan. Meski setiap tahunnya diundang untuk mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan di Istana Negara Jakarta atau di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, namun Harnaniek hanya tinggal di rumah yang sangat sempit berukuran 3X3 Meter di Desa Banjar Kemantren Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo.

Tidak banyak perabotan yang ada dirumahnya yang sempit tersebut, di dinding rumahnya terpampang foto-foto dirinya saat masih muda hingga jaman penjajahan. Selain itu dirumahnya hanya terdapat seperangkat meja kursi dan perabotan untuk menyimpan buku dan foto-fotonya.

Setelah ditinggal wafat oleh suaminya (Nitisuwito) tahun 1987 silam, Harnaniek hanya tinggal sendiri di dalam rumahnya di sebuah gang yang cukup sempit.

Dua anaknya sudah tidak bisa menemaninya saat menghabiskan masa tuanya karena sudah berkeluarga. Wanita yang lahir pada tanggal 8 Agustus 1930 silam ini, bergabung dengan Korps Pejuang Srikandi usai lulus dari sekolah H-I-S di Jember.

“ Saya Berjuang Mengusir Penjajah di tahun 1945 dan perang 10 Nopember di Surabaya,” ujar Harnaniek.

Harnaniek yang juga cucu dari pahlawan Supriyadi, juga mengaku selama ini hanya mendapat bantuan dari Pemerintah sebesar 250 Ribu Rupiah setiap bulannya. Namun bantuan tersebut dirasanya sangat kurang, bahkan Harnaniek kecewa dengan janji-janji pemerintah yang akan menambah bantaun sebesar 1 Juta Rupiah, namun janji tersebut tak kunjung ada realisasinya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Harnaniek terpaksa membuka praktek pengobatan alternatif dan spiritual kepada warga sekitar yang membutuhkan pertolongannya. Pengobatan alternatif tidak disengaja dilakukan Harnaniek karena warga sekitar mengaku doanya sangat manjur sebagai media pengobatan.
Rumahnya pun terpaksa dikontrakkan kepada orang lain untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya, padahal Harnaniek adalah satu-satunya pejuang wanita di Indonesia yang saat ini masih hidup, sementara teman sejawatnya sudah banyak yang meninggal. Berapapun besar perhatian Pemerintah tidak akan mampu menandingi perjuangannya merebut kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

KH. Abdul Kholiq Hasyim


KH Abdul Kholik Hasyim adalah seorang pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang cukup disegani oleh masyarakat. Ia memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Di bawah kepemimpinannya, intensitas pengajian kitab kuning di Tebuireng ditingkatkan.
Kelahiran dan Pendidikan

Abdul Kholik Hasyim dilahirkan pada tahun 1916 dengan nama kecil Abdul Hafidz. Beliau adalah putra keenam dari pasangan Kiai Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah.

Sejak kecil Abdul Kholik dididik langsung oleh ayahnya sendiri. Setelah dianggap mampu, Abdul Kholik melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Sekar Putih, Nganjuk. Selepas dari sana, dia meneruskan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar nahwu. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Abdul Kholik melanjutkan studinya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah.

Pada tahun 1936, dalam usia 20 tahun, Abdul Kholik pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sana ia bermukim selama empat tahun sambil memperdalam ilmu pengetahuan. Salah seorang gurunya bernama Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha.

Berkeluarga dan Berjuang

Pada tahun 1939, Abdul Kholik pulang ke tanah air. Setahun kemudian, ia menikah dengan salah seorang keponakan Kiai Baidhawi yang bernama Siti Azzah. Pada tahun 1942, Kiai Kholik dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hakam. Inilah satu-satunya keturunan Kiai Kholik.

Selama masa revolusi fisik, Kiai Kholik aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sejak tahun 1944, atau satu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Kholik masuk dalam dinas ketentaraan nasional. Dia menjadi anggota PETA.

Kiai Kholik merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim. Kiai Kholik mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Memimpin Tebuireng

Sepulang dari Makkah, Kiai Kholik mampir dulu ke Jakarta menemui Kiai Wahid Hasyim yang saat itu menjadi Menteri Agama. Di sana beliau membicarakan masalah kepemimpinan Tebuireng yang waktu itu dipegang oleh Kiai Baidlawi. Dalam pandangan Kiai Kholik, naiknya Kiai Baidlawi sebagai pimpinan Tebuireng telah merubah tradisi kepemimpinan pesantren yang biasanya diteruskan oleh putra pengasuhnya, bukan oleh menantunya.

Setelah dari Jakarta, Kiai Kholik mampir ke Desa Kwaron, Jombang. Di sana ia tinggal di rumah adiknya yang paling bungsu, Muhammad Yusuf Hasyim. Dari Desa Kwaron Kiai Kholik mengirim utusan ke Tebuireng untuk membicarakan masalah suksesi kepemimpinan Tebuireng dengan Kiai Baidhawi. Mendengar rencana tersebut, Kiai Baidhawi lalu menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada Kiai Kholik.

Sejak awal kepemimpinannya, Kiai Kholik banyak melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning, yang pada tahun-tahun sebelumnya digantikan dengan sistem klasikal. Sebagai pendekar sekaligus bekas tentara, Kiai Kholik menerapkan kedisiplinan yang cukup tinggi di Tebuireng.
Langkah pertama yang diambilnya ialah meminta bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali (tahun 1953), untuk mengajar di Tebuireng. Kiai Idris diminta untuk mengajarkan kembali kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf, serta melakukan revitalisasi sistem pengajaran.

Dalam memimpin Tebuireng, Kiai Kholik terkenal sangat disiplin. Ini mungkin merupakan pengaruh tidak langsung dari jiwa militernya. Meskipun demikian, Kiai Kholik sangat hormat kepada Kiai Idris, karena dianggap lebih tinggi ilmu spiritualnya. Kiai Idris juga sangat dihormati oleh santri dan masyarakat. Sedangkan Kiai Kholik sebagai pemimpin formal Tebuireng, mengajar kitab-kitab tasawwuf.

Sedangkan Kiai Kholik sangat disegani masyarakat, karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Hampir setiap hari tamu-tamu berdatangan ke rumahnya, baik meminta doa-doa atau meminta syarat kesembuhan. Masyarakat percaya bahwa Kiai Kholik mewarisi kesufian dan kekaromahan Kiai Hasyim, sehingga beliau sering melakukan keajaiban-keajaiban tertentu. Konon, Kiai Kholik pernah menurunkan buah kelapa tanpa memanjatnya. Beliau cukup menggerakkan tenaga dari bawah, buah kelapa sudah berjatuhan. Kiai Kholik juga terkenal kebal senjata tajam. Saat terjadi peristiwa G30S PKI, Kiai Kholik memberikan amalan untuk kekebalan dan kesaktian kepada para santri dan masyarakat.

Pada masa penjajahan, Kiai Kholik pernah ditahan oleh tentara Belanda tanpa alasan yang jelas. Beliau dijatuhi hukuman mati. Keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Kiai Kholik meminta waktu kepada algojo untuk salat dua rakaat. Seusai salat, Kiai Kholik mengangkat tangan berdoa kepada Allah. Anehnya, setelah itu pihak Belanda menyatakan bahwa Kiai Kholik tidak jadi dihukum mati.

Selain terkenal memiliki karomah tinggi, Kiai Kholik juga memiliki kebiasaan mengoleksi kitab-kitab syair berbahasa Arab (semacam ontologi). Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Tebuireng.

Pada masa Kiai Kholik, madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mu’allimin. Kurikulumnya 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah.

Polaritas Politik

Di bidang politik, pada masa kepemimpinan Kiai Kholik terdapat polaritas internal di kalangan pemimpin Tebuireng. Pertama, Kiai Kholik mendirikan partai Aksi Kemenangan Umat Islam (AKUI) tahun 1955 dan melarang segala aktivitas politik dan organisasi apapun di Tebuireng. Kedua, Kiai Karim (kakak Kiai Kholik) tetap konsisten menjadi anggota Masyumi. Ketiga, sebagian warga pesantren dan masyarakat Tebuireng mengikuti Partai NU. Padahal Kiai Kholik saat itu melarang segala kegiatan yang berbau NU. Segala aktifitas harus dilakukan di luar pondok. Di pondok hanya untuk ibadah dan mengaji.

Ketika Presiden Soekarno menjatuhkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kiai Kholik sebagai anggota Konstituante, menentang dengan keras. Dalam pandangannya, jalan musyawarah dan diplomasi masih bisa dilanjutkan. Kiai Kholik mendapat teguran keras atas penentangannya itu, sehingga partai AKUI yang didirikannya dibubarkan. Kiai Kholik kemudian keluar dari politik.

Berpulang ke Haribaan-Nya

Bulan Juni 1965, atau tiga bulan sebelum meletusnya pemberontakan G.30.S/PKI, Kiai Kholik menderita sakit selama beberapa hari. Semua keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Mereka semua mengharap kesembuhan sang pengasuh. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihadang. Beberapa hari setelah itu, Kiai Kholik menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna liLlahi wa inna ilayhi raji’un. Tebuireng pun berduka.

Sebagaimana keluarga lainnya, jenazah Kiai Kholik dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, diiringi ribuan peta’ziyah yang mengantarkannya hingga ke liang lahat. 

(Sumber : www.nu.or.id)

Belajar dari KH Muntaha Al-Hafizh

Di antara deretan ulama di tanah air, nama KH Muntaha Al-Hafizh tentulah bukan nama yang asing. Ia adalah sosok di balik megahnya bangunanan Pondok Pesantren, sekolah SMA dan SMP Takhassus Al-Qur`an serta UNSIQ, Wonosobo, Jawa Tengah, yang sebelumnya bernama IIQ, sewaktu ia masih menjabat sebagai Rektor.

KH Muntaha Al-Hafidz lahir sekitar tahun 1910M di Kalibeber, Wonosobo. Ia adalah ulama Multidimensi yang mempunyai segudang ide dan pemikiran cemerlang yang bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi ulama lainnya.

Pertama, Ide Pendidikan. Dalam dunia pendidikan KH. Muntaha Al-Hafidz merupakan teladan karena keberhasilannya mengembangkan pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Asy`ariyyah. Yayasan tersebut saat ini menaungi berbagai jenjang pendidikan antara lain, Taman Kanak-Kanak (TK) Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, 'Ulya dan Madrasah Salafiayah Al-Asy`ariyyah, SMP dan SMU Takhassus Al-Qur'an, SMK Takhassus Al-Qur`an, Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ), khusus untuk Perguruan Tinggi UNSIQ ini di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur'an (YPIIQ) namun cikal bakalnya Pesantren Al Asy'ariyah. YPIIQ sendiri sebelumnya telah mendirikan Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) JawaTengah sebagai embrio dari UNSIQ. KH. Muntaha Al-Hafidz juga menjadi salah seorang pendiri bahkan memegang jabatan Rektor pada saat Perguruan Tinggi ini sebelum berubah menjadi universitas adalah merupakan bukti implementasi dari ide dan pemikirannya.
Implementasi dari ide dan pemikirannya di bidang pendidikan diwujudkan dengan memadukan antara pesantren yang notabene merupakan pendidikan non formal dan pendidikan formal sejak dari TK sampai Perguruan Tinggi.

Kedua, Ide Tentang Dakwah dan Sosial. Dalam bidang dakwah, dibentuk Korps Dakwah Santri (KODASA). Korps ini merupakan wadah untuk aktifitas santri Pondok Pesantren Al-Asy`ariyyah dalam menyiarkan Islam, baik yang diperuntukkan bagi kalangan santri (sesama santri) dalam rangka meningkatkan kualitas diri, maupun kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian dan kepedulian pondok pesantren terhadap kondisi riil yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di bidang sosial keagamaan. Adapun aktifitasnya, meliputi: bacaan shalawat, Qira'atul Qur'an, khitobah dengan menggunakan empat bahasa, yakni: bahasa Inggris,Arab dan bahasa Indonesia serta bahasa Jawa, juga Qosidah dan rebana yang merupakan kesenian bernuansa islami. Dalam bidang sosial, ia juga merintis berdirinya Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) bersama dengan Adi Sasono KH. MA. Sahal Mahfudz.

Ketiga, Ide Tentang kesehatan. Dalam bidang kesehatan, implementasi dari ide dan pemikirannya diwujudkan dalam pendirian balai pengobatan dan pendirian Pendidikan Akademi Keperawatan (AKPER). Akper ini sekarang berada di lingkungan Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah. Karenanya institusi ini diberi nama AKPER UNSIQ. Selain itu, dibentuk Poliklinik Maryam. Poliklinik ini tidak hanya melayani santri dan mahasiswa saja, akan tetapi juga melayani masyarakat umum di sekitar poliklinik bahkan sering pula masyarakat dari daerah atau kecamatan lain yang memeriksakan kesehatannya di Poliklinik Maryam ini. Bahkan sebelumnya, ia telah merintis dan mendirikan Balai Kesehatan di Tieng, Kejajar, pada tahun 1986, yang disusul pula dengan pendirian Rumah Sakit Islam (RSI) Kabupaten Wonosobo.

Keempat Ide Tentang Pemikiran Islam, Ia juga tidak ketinggalan dalam memberikan ide dan pemikiran di bidang pemikiran Islam. Dalam bidang ini, ia membentuk "tim sembilan" untuk menyusn tafsil Al-Maudhu`i.

Dalam rangka menghadapi era globalisasi, KH. Muntaha Al-Hafidz memiliki ide dan pemikiran tentang perlunya penguasaan bahasa, yakni tidak hanya bahasa Indonesia dan bahasa Arab saja, melainkan juga bahasa Inggris, Cina, Jepang, dan lain-lain bagi para santri Al-Asy`ariyyah untuk bisa menjelaskan isi dan kandungan Al-Qur`an kepada masyarakat luas (internasional). Dan ide ini telah dipraktekan di Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, juga di SLTP, SMU, dan SMK Takhassus Al-Qur'an, termasuk di dalamnya Universitas Sains Al-Qur`an.

Implementasi dalam bidang seni, terutama seni kaligrafi ia wujudkan dalam tulisan "Mushaf Al-Asy`ariyyah" (Al-Qur'an Akbar). Al-Qur'an ini memang berukuran besar, bahkan pada waktu dipublikasikan Al-Qur'an ini tercatat paling besar di dunia. Ukuran mushafnya 2 x 15 m pada saat kondisi tertutup dan berukuran 2 x 3 m dalam kondisi terbuka. KH. Muntaha Al-Hafidz adalah tokoh dan figur pemimpin yang patut untuk menjadi teladan. Aktifiatas, ide, dan pemikirannya selalu berorientasi ke masa depan. Sehingga santri-santrinya digembleng sedemikian rupa dengan harapan, di kemudian hari nanti mampu berinteraksi dengan komunitas masyarakat yang heterogin dan berbeda kondisi sosialnya.

Keseluruhan hidup Mbah Muntaha telah diabdikan untuk pencerahan dan pembebasan umat, baik melalui wadah pesantren yang ia warisi dari orang tuanya (KH. Asyari), maupun melalui Jami'iyyah NU yang telah dipilih sebagai medium perjuangannya. Di zaman kemerdekaan, perjuangan Mbah Muntaha selalu mengikuti ritme perjuangan NU. Di samping berjuang memanggul senjata dengan bergabung sebagai Laskar Hizbullah dan memimpin BMT (Barisan Muslimin Temanggung) sebuah laskar kerakyatan yang turut berjuang membela kemerdekaan. Ia juga aktif mengikuti gerakan NU.
Sewaktu NU melalui muktamarnya di Palembang memutuskan untuk keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik sendiri, sebagai akibat dari tindakan para politisi Masyumi yang berasal dari kalangan non pesantren terlalu meremehkan peran politisi dari pesantren. Ia pun terlihat aktif dalam memperjuangkan NU untuk berkiprah di masyarakat bahkan sempat ditunjuk menjadi anggota Konstituante mewakili NU Jawa Tengah sampai dibubarkannya majlis itu pada tanggal 5 Juli 1959. Kondisi itu itu terus berlangsung hingga tahun 1972 saat pemerintah orde baru menetapkan bahwa partai Islam harus berfusi dalam satu wadah partai yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Sebagai konsekuensi dari sikap NU yang harus mengikuti peraturan pemerintah walalupun secara politik sangat merugikan NU, Mbah Mun pun ikut terlibat aktif dalam Parta Persatuan Pembangunan. Kondisi itu berlangsung hingga dicanangkannya kembali ke Khittoh 1926.

Setelah sekian tahun bergulat dalam tandusnya lahan politik praktis, Mbah Mun kembali melirik kondisi pesantrennya yang terlihat belum begitu tampak kemajuannya. Kemudian Ia memilih untuk berpolitik secara substansial yaitu menggunakan jalur politik dengan tujuan membawa kemaslahatan umat yang lebih banyak. Dari perubahan sikapnya itu kemudian Ia menata pesantrennya dengan membenahi pola pengajarannya. Bahkan kemudian mendirikan dua sekolahan yaitu SMP dan SMA Takhassus Al-Qur'an yang berafiliasi kepada penajaman pemahaman Al-Qur'an bahkan pada gilirannya mendirikan Institut Ilmu Al-Qur'an sebagai wadah penggodokan sarjana Al-Qur'an yang mampu dalam pemahaman Ilmu Al-Qur'an dan umum. Dalam kaitan ini pula Mbah Mun tak kenal lelah meyakinkan berbagai pihak akan pentingnya pembenahan NU, mengingat posisinya yang strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Puncaknya Ia menghadiri Muktamar NU ke 27 di Situbondo yang diantaranya, memutuskan kembali ke Khittoh 1926. Fanatisme Mbah Mun terhadap NU ini dapat dipahami mengingat latar belakang Ia sebagai orang pesantren yang senantiasa memelihara ajaran pendahulunya dan perjuangan Ia dalam berbangsa dan bernegara melalui wadah NU.

Satu hal yang mungkin belum banyak terekam dalam sejumlah tulisan tentang Mbah Mun adalah tulisan (risalah) yang ditulis oleh Ia atau manuskrip serta gagasan dalam bentuk tulisan yang Ia sendiri turut memberikan sumbangan pemikirannya, belum banyak dipublikasikan. Padahal sebagai seorang Kyai yang multidimensi, termasuk kepiawaian Ia berbicara di depan orang banyak sebagai seorang orator dan mampu menghanyutkan pendengar ke arah isi pidatonya dengan disertai ilmu balaghohnya banyak disenangi oleh pendengar, serta jabatan yang Ia sandang baik formal maupun non formal, banyak tulisan Ia yang menunjukkan kepiawaian Ia dalam menyampaikan gagasan pikirannya, atau sekedar menyampaikan pesan kepada umatnya. Atau terkadang Ia menyuruh seseorang untuk menyusun suatu tulisan dengan yang dikehendaki Ia, dan terkadang Ia merestui suatu gagasan yang telah tersusun dalam bentuk buku yang memang sesuai dengan gagasan Ia, sebagai penghormatan karya dari orang tersebut serta sebagai dorongan untuk terus berkarya.

Hal ini hampir sama dalam khazanah kepustakaan Islam, misalnya gagasan seorang alim yang tertuang dalam bentuk tulisan Kitab Klasik (kuning) terkadang bukan dari tulisan tangannya sendiri, bahkan ditulis dari muridnya atau orang yang sengaja disuruh untuk menuliskannya. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Mbah Mun ini bisa menjadi konvensi bagi para Kyai maupun santri di daerah yang pesantrennya hendak eksis, bahwa di samping menguasai ilmu-ilmu keislaman dan juga ilmu umum, yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dituntut pula untuk trampil menyampaikan suatu gagasan lewat tulisan.

Ahmad Muzan
Direktur Islamic Homeschooling dan Sekolah Alternatif Fatanugraha Wonosobo

KH ABDULLAH SALAM, Wali yang Penuh Karamah

Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
 
Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.

Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah. 

Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.

Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya? 

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama. 

Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya. 

Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu. 

Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”

“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”

“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”

“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.

“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata. 

Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.

32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil kerahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”(Aji Setiawan)

Dua Hikmah dari Mbah Sahal

Beberapa waktu lalu,tepatnya pada 6-8 September 2013 saya membaca banyak media NU, baik cetak maupun on line, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melaksanakan Rapat Pleno di Pondok Pesantren UNSIQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. KH MA Sahal Mahfudh Rahimahullah menyampaikan khutbah iftitah.
Bagi saya pribadi, pidato Mbah Sahal itu mempunyai dua pelajaran (hikmah) penting. Yang pada intinya adalah ajakan atau arahan untuk menjaga pergerakan Nahdlatul Ulama tetap istiqamah dalam Khittahnya.
Hikmah pertama adalah himbauan yang bersifat jangka pendek. Dan hikmah kedua adalah himbauan yang bersifat jangka panjang. Himbauan jangka pendek, warga NU dan para pengurus diminta menjaga diri dalam pemilu tahun 2014 agar tidak membawa NU kedalam politik praktis, yang secara eksplisit disebutkan menjelang akhir wacana Kiai Sahal dalam pidatonya. Sebagaimana dimuat dalam NU Online.
Pesan Beliau berbunyi : ‘........ menjelang tahun 2014 yang merupakan tahun politik bangsa kita, karena dikhawatirkan tidak sedikit pengurus NU di berbagai tingkatan yang memperlakukan NU seakan-akan sebagai sebuah partai politik (hizb Siyasi), yang bergerak pada tataran politik praktis alias politik kekuasaan.’
Sedangkan yang bersifat jangka panjang adalah berkaitan dengan keharusan semua warga NU untuk menjaga khittah. Inilah yang sangat menarik untuk dipelajari dan dianalisis. 
Dalam khutbah iftitahnya, Sang Kiai mengingatkan kembali kepada semua warga Nahdliyiin bahwasanya NU adalah Jam’iyyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi keagamaan yang bersifat sosial), yang berperan dalam pembangunan masyarakat, baik dalam pembinaan agama, maupun sosial. NU bukanlah sebuah partai politik, yang memiliki peran utama dalam permainan politik. Sebagaimana ditegaskan dalam khittah bahwa lahan pekerjaan utama NU adalah bidang Agama (dakwah), Pendidikan (maarif) dan sosial (mabarrat).
“Sebagai organisasi keagamaan Islam, tugas utama NU adalah menjaga, membentengi, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam menurut pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah di bumi nusantara pada khususnya dan di seluruh bumi Allah pada umumnya.” Demikian Kiai Sahal seperti dilansir NU Online.
Dalam kaitannya dengan tugas NU sebagai organisasi keagamaan ini, Kiai Sahal menyampaikan bahwa NU memiliki tugas besar dan berat, untuk mengembangkan agama dari kepicikan pemikiran, yang berujung pada kecenderungan saling mencaci maki, dan bahkan mengakfirkan sesama muslim. Ia berargumen bahwa kebebasan berfikir seharusnya memunculkan suatu sikap saling menghormati (tasamuh) terhadap pendapat orang lain yang berbeda.
Dalam hal ini Kiai Sahal mengutip Pendapat Imam Syafi’i dalam bahasa Arab yang artinya: ‘Pendapat saya benar namun mungkin memuat kesalahan, pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya.’
Terkait posisi NU sebagai bagian dari elemen bangsa Indonesia, ia mengingatkan kembali kepada kita bahwa politik kebangsaan dan kerakyatan adalah suatu hal yang harus dilakukan Nahdlatul Ulama, yang disebut Kiai Sahal sebagai (high politics), bukan semata-mata politik praktis atau kekuasaan yang disebutnya politik rendahan (low politics).
Ia menyebutkan: "Politik kebangsaan berarti NU harus istiqamah dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun." 
Inilah bagian yang sangat menarik bagi saya. Sebuah pemikiran hebat tersirat dalam pernyataannya itu. Tersirat pemberitahuan kepada seluruh masyarakat bahwa dalam pembangunan sebuah bangsa (nation) dan negara (state) peran politik ulama yang dalam hal ini bisa diterjemahkan sebagai NU tidak boleh dikesampingkan. Peran ulama harus ada dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tapi tidak boleh secara praktis.
NU seharusnya tidak boleh berada dalam pemerintahan, tapi jangan ditinggalkan. Karena NU harus berperan dalam mendidik kedewasaan politik. Dan ini memang benar saat ini, karena kita telah mengetahui bahwa partai politik sekarang sudah gagal dalam mendidik kedewasaan berpolitik masyarakat.
Tidakkah ini adalah sebuah pemikiran cemerlang dari seorang kiai desa tapi faqih? Kini Mbah Sahal sudah meninggalkan kita semua. Tidakkah menjadi tugas kita sebagai generasi selanjutnya untuk melaksanakan cita-cita itu? Kepada beliau, Alfatihah.......

Ahmad Nur Kholis, Kontributor NU Online Malang Jawa Timur
 

LENSA NAHDLIYIN

BERITA VIDEO

Support : Jurnal 9 | tv9 | news
Copyright © 2011. TV9 Berita - All Rights Reserved
Template Created by tonny Published by tv9
Proudly powered by Redaksi